"Liaison Officer Forever"
by : Melanie Subono
Have fun reading & enjoy!
Sebuah kalimat yang singkat dan cukup membius! hahaha...
Gak nyangka kalo saat itu aku berada di sana. Bertemu seseorang yang sebelumnya gak aku kenal, tapi diidolakan banyak orang. Thanks to my friend, Susi.
Lagi-lagi terjebak dalam suasana asing. Orang-orang baru yang bisa dibilang jauh dari jangkauan penglihatan. Begini, ketika aku menilik dalam diriku dan kemudian melihat ke arah mereka, betapa aku merasa begitu kecil dan bukan siapa-siapa. Apa lagi pas liat mba Mel berdiri dan berbicara di depan, wahh gue langsung ciut. Trus kalo dipikir, ternyata kemandirianku tuh masih kurang dan ternyata selama ini aku gak belajar dengan baik. Bahasa Inggris gue JEBLOK!! hahaha...
Well, mba Mel bilang jangan berhenti bermimpi. Kedengarannya menyenangkan. Tiba-tiba ada power lebih yang masuk dalam diriku waktu denger sharing dari mba Mel lewat LO CLASS kemarin itu. Juga lewat bukunya, Liaison Offecer Forever. Tapi, entah kenapa dewi fortuna tuh masih enggan berpihak sama aku, bukan karena gak dapet dreampass, masalahnya adalah aku menerima sms demikian, "ngapa nang kana? golet tai garing apa? angger ngesuk ora bali, awas koe", gak lucu banget!! Otomatis semangatku langsung down, dan mimpi cuma tinggal mimpi. Aku kembali ingat bahwa aku boleh bermimpi tapi tak boleh berharap lebih, hanya mimpi, CUMA MIMPI!!
Sempet aku harap, orang itu (yang kirim sms) mati aja. Langsung deh pikiran jelek itu muncul lagi. Berharap jadi anak yatim piatu aja, percuma juga punya keluarga, tiada guna. Bosen jadi anak baik-baik. Berbuat baik, salah. Melakukan hal yang disukai harus ada aturan. Padahal gak pernah jadi bad girl. Selalu nurut apapun perintah yang berkuasa. Dan gak pernah yang namaya membangkang atau pun menuntut macam-macam. Meski begitu masih aja disalahkan. Selalu dapat hinaan. Salahku juga gak bisa ngelawan, gak bisa bales kata-kata kasar itu, karena ujung-ujungnya tangan melayang, muka jontor! Trauma masa lalu gak bisa ilang, sedikit ancaman aja udah bikin hatiku menangis. Kalau membunuh itu dianjurkan, mungkin udah banyak orang yang kubunuh, terutama keluargaku sendiri.
Kadang muncul pemikiran begini, mending aku mati aja. Potong nadi kayaknya asik, gantung diri keren juga tuh. Terjun bebas, ok juga. Minum racun kayaknya enak. Kayak sinetron bangetlah, kabur dari rumah, pokoknya menghilang dan gak pernah kembali. Tentu aja, sampai sekarang aku belum pernah melakukan itu. Aku tak punya keberanian untuk melawan, selain itu aku takut dibenci Bapaku. Tapi, aku tak pernah habis pikir, kenapa cuma aku yang mengalamai hal itu? Kenapa aku tak pernah diberi kesempatan untuk bernafas lega?
Mendengar cerita mba Mel tentang pengalamannya sebagai LO, aku mencoba berpikir positif tentang hidupku. Aku harus tetap bisa merajut senyuman meski hatiku remuk dan hancur. Seperti seorang LO menghadapi para artisnya, mungkin aku juga bisa begitu. Tetap berlari meski berkali-kali terjatuh, tetap bermimpi meski berkali-kali mengalami kehancuran.
Hanya tinggal menunggu waktu yang tepat dan mimpi-mimpi itu akan berada dalam genggaman. Hanya tinggal menunggu waktu yang tepat sampai kesabaranku habis, hingga berlari tak mengenal ujung. Aku selalu mengalah untuk tetap dijajah, mungkin lain kali aku perlu mencoba peran antagonis, kadang-kadang pingin juga jadi penjajah. Aku perlu melakukan banyak hal sebelum aku mati. Hidup hanya satu kali, aku hanya perlu mencari tahu cara menikmatinya. Bagaimana denganmu?
Bila langit menangis, akulah yang pertama menangis bersamanya. Bila hujan turun, akulah yang pertama bermain dengannya.
by : Melanie Subono
Have fun reading & enjoy!
Sebuah kalimat yang singkat dan cukup membius! hahaha...
Gak nyangka kalo saat itu aku berada di sana. Bertemu seseorang yang sebelumnya gak aku kenal, tapi diidolakan banyak orang. Thanks to my friend, Susi.
Lagi-lagi terjebak dalam suasana asing. Orang-orang baru yang bisa dibilang jauh dari jangkauan penglihatan. Begini, ketika aku menilik dalam diriku dan kemudian melihat ke arah mereka, betapa aku merasa begitu kecil dan bukan siapa-siapa. Apa lagi pas liat mba Mel berdiri dan berbicara di depan, wahh gue langsung ciut. Trus kalo dipikir, ternyata kemandirianku tuh masih kurang dan ternyata selama ini aku gak belajar dengan baik. Bahasa Inggris gue JEBLOK!! hahaha...
Well, mba Mel bilang jangan berhenti bermimpi. Kedengarannya menyenangkan. Tiba-tiba ada power lebih yang masuk dalam diriku waktu denger sharing dari mba Mel lewat LO CLASS kemarin itu. Juga lewat bukunya, Liaison Offecer Forever. Tapi, entah kenapa dewi fortuna tuh masih enggan berpihak sama aku, bukan karena gak dapet dreampass, masalahnya adalah aku menerima sms demikian, "ngapa nang kana? golet tai garing apa? angger ngesuk ora bali, awas koe", gak lucu banget!! Otomatis semangatku langsung down, dan mimpi cuma tinggal mimpi. Aku kembali ingat bahwa aku boleh bermimpi tapi tak boleh berharap lebih, hanya mimpi, CUMA MIMPI!!
Sempet aku harap, orang itu (yang kirim sms) mati aja. Langsung deh pikiran jelek itu muncul lagi. Berharap jadi anak yatim piatu aja, percuma juga punya keluarga, tiada guna. Bosen jadi anak baik-baik. Berbuat baik, salah. Melakukan hal yang disukai harus ada aturan. Padahal gak pernah jadi bad girl. Selalu nurut apapun perintah yang berkuasa. Dan gak pernah yang namaya membangkang atau pun menuntut macam-macam. Meski begitu masih aja disalahkan. Selalu dapat hinaan. Salahku juga gak bisa ngelawan, gak bisa bales kata-kata kasar itu, karena ujung-ujungnya tangan melayang, muka jontor! Trauma masa lalu gak bisa ilang, sedikit ancaman aja udah bikin hatiku menangis. Kalau membunuh itu dianjurkan, mungkin udah banyak orang yang kubunuh, terutama keluargaku sendiri.
Kadang muncul pemikiran begini, mending aku mati aja. Potong nadi kayaknya asik, gantung diri keren juga tuh. Terjun bebas, ok juga. Minum racun kayaknya enak. Kayak sinetron bangetlah, kabur dari rumah, pokoknya menghilang dan gak pernah kembali. Tentu aja, sampai sekarang aku belum pernah melakukan itu. Aku tak punya keberanian untuk melawan, selain itu aku takut dibenci Bapaku. Tapi, aku tak pernah habis pikir, kenapa cuma aku yang mengalamai hal itu? Kenapa aku tak pernah diberi kesempatan untuk bernafas lega?
Mendengar cerita mba Mel tentang pengalamannya sebagai LO, aku mencoba berpikir positif tentang hidupku. Aku harus tetap bisa merajut senyuman meski hatiku remuk dan hancur. Seperti seorang LO menghadapi para artisnya, mungkin aku juga bisa begitu. Tetap berlari meski berkali-kali terjatuh, tetap bermimpi meski berkali-kali mengalami kehancuran.
Hanya tinggal menunggu waktu yang tepat dan mimpi-mimpi itu akan berada dalam genggaman. Hanya tinggal menunggu waktu yang tepat sampai kesabaranku habis, hingga berlari tak mengenal ujung. Aku selalu mengalah untuk tetap dijajah, mungkin lain kali aku perlu mencoba peran antagonis, kadang-kadang pingin juga jadi penjajah. Aku perlu melakukan banyak hal sebelum aku mati. Hidup hanya satu kali, aku hanya perlu mencari tahu cara menikmatinya. Bagaimana denganmu?
Bila langit menangis, akulah yang pertama menangis bersamanya. Bila hujan turun, akulah yang pertama bermain dengannya.
I like sitting in the rain, then no one can see my tears...
Cilacap, 20 Juni 2011
Cilacap, 20 Juni 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar