Jujur, kalo liat blog aku yang terbengkalai ini,,madan bosen, bisa dibilang aku memang BOSAN. Kadang kalo mau nulis, bingung mau nulis apa dan bagaimana, paling sulit memang harus mengungkapkan perasaan, itu kelemahanku, BICARA. Buat nulis satu kata aja harus mikir lama, takut salah, terlebih takut gak enak dinikmati, terutama untuk orang lain.
Pengen nyoba keluar dari zona kebiasaan yang udah mendarah daging, yaitu PENIKMAT. Menikmati tulisan orang lain memang menyenangkan, seolah kata-kata yang tertulis itu adalah suara hatiku. Bener banget! Memang sulit membebaskan jiwa yang kesehariannya berada dalam sangkar, yang buat terbang aja harus butuh izin. Jadi, gak bisa bener-bener memutuskan sendiri, kapan harus terbang dan dimana harus hinggap. Siapa sih yang seneng hidup dalam tekanan, sampai gak tahu harus berbuat apa dan menjadi apa.
Andai aku kayak mereka
Andai aku seperti itu
Andai aku memiliki semua itu
Banyak pertanyaan dan keinginanku, sempat membuat aku ingin menjadi orang lain, dalam hal ini adalah orang-orang yang beruntung itu, yang punya keluarga (meski cuma keluarga kecil) yang selalu mendukung langkahku, bukan hanya menyalahkan dan menghakimi. Tak masalah bagiku meski hanya kata, "ayo semangat, kamu pasti bisa", "kamu mau apa?mungkin aku bisa bantu?", "jadi itu keputusanmu, maaf ya, cuma ini yang bisa aku lakukan untukmu"...itu saja udah buat aku punya power lebih, bukannya malah menuding,"mau jadi apa di sana? di sini aja gak becus", atau yang lebih kasarnya, "ngapa nang kana, arep dadi kutis apa koe?" , intinya mereka menganggap rendah diriku terlebih lagi impianku. Bagaimana bisa membuktikan kalo diriku gak seperti yang mereka sangka jika mereka sendiri gak memberiku kebebasan untuk berekspresi, mencari jati diriku.
Bagiamana bisa aku mengenal siapa diriku jika aku gak diberi kesempatan untuk belajar?
Flash back ke masa silam ...
Ok, aku anak kedua dari dua bersaudara, kakakku laki-laki, dan kami berdua hanya tinggal dengan ayah, benar-benar bertiga. Saudara yang lain? Tak ada. Aku seorang wanita, di situlah kesalahannya, karena aku wanita, satu-satunya dalam keluarga. Apa yang salah jika aku wanita? Gerakku terbatas. Aku harus melapor kemanapun pergi. Keinginanku harus melalui persetujuan ayah dan kakak, dan apa pun keputusan mereka, aku tak boleh membangkang, meskipun itu bertentangan dengan hati nurani. Sekalipun mereka melakukan kesalahan, tetap dianggap benar. Mereka menanamkan istilah demikian dalam diriku, AKU SELALU SALAH DAN TAK ADA YANG BENAR DALAM DIRIKU.
Kesalahan kedua, kami adalah keluarga BROKEN HOME, lalu? Aku menjadi pelampiasan kemarahan kakak maupun ayah. Karena aku wanita, aku lemah. Aku tak pernah bisa melawan ketika mengalami kekerasan fisik. Aku selalu dipukuli jika melakukan kesalahan. Dan aku tetap tak bisa melakukan pemberontakan, sekecil apa pun. Itulah sebabnya aku hidup dalam ketakutan. Aku tak pernah bisa mengambil keputusan, karena aku takut. Menjadi pribadi yang minder. Mungkin hal yang paling menghambat langkahku dalam hidup adalah luka batin. Aku belum bisa melupakan rasa sakit itu.
Kecewa, marah, benci, dendam ...
Perasaan terabaikan, terbuang, dan tak dicintai, membuat hatiku membusuk cukup lama, aku butuh waktu menyembuhkan itu semua. Itu tidak mudah bagiku.
Well ...
Di sinilah aku sekarang. Dengan usiaku yang tak lagi muda. Meski belum dewasa, tapi aku bukan lagi anak kecil. Kuharap Tuhan memberiku banyak kesempatan untuk berekspresi. Aku percaya bahwa renca-Nya selalu indah. Dan saat inilah yang selalu kutunggu-tunggu. Melebarkan sayap dan terbang setinggi-tingginya. Mungkin inilah sebabnya masih ada nafas dalam nadiku. Setelah sekian banyak rasa sakit yang kulalui. Kuharap, aku masih bisa menikmati rasa sakit itu dengan cara yang lebih baik.
This is my dream pass ..
Untukmu, kalian, dan kita semua, inilah saatnya untuk melangkah. Jangan takut untuk memberontak demi kebahagiaanmu. Karena hanya kamu yang tahu mana yang terbaik untuk dirimu. Hilangkan rasa takutmu dan larilah! Meski ayah, ibu, kakak, dan saudara-saudaramu melupakanmu, percayalah Dia tak pernah meninggalkanmu.
GO AHEAD!!
Pengen nyoba keluar dari zona kebiasaan yang udah mendarah daging, yaitu PENIKMAT. Menikmati tulisan orang lain memang menyenangkan, seolah kata-kata yang tertulis itu adalah suara hatiku. Bener banget! Memang sulit membebaskan jiwa yang kesehariannya berada dalam sangkar, yang buat terbang aja harus butuh izin. Jadi, gak bisa bener-bener memutuskan sendiri, kapan harus terbang dan dimana harus hinggap. Siapa sih yang seneng hidup dalam tekanan, sampai gak tahu harus berbuat apa dan menjadi apa.
Andai aku kayak mereka
Andai aku seperti itu
Andai aku memiliki semua itu
Banyak pertanyaan dan keinginanku, sempat membuat aku ingin menjadi orang lain, dalam hal ini adalah orang-orang yang beruntung itu, yang punya keluarga (meski cuma keluarga kecil) yang selalu mendukung langkahku, bukan hanya menyalahkan dan menghakimi. Tak masalah bagiku meski hanya kata, "ayo semangat, kamu pasti bisa", "kamu mau apa?mungkin aku bisa bantu?", "jadi itu keputusanmu, maaf ya, cuma ini yang bisa aku lakukan untukmu"...itu saja udah buat aku punya power lebih, bukannya malah menuding,"mau jadi apa di sana? di sini aja gak becus", atau yang lebih kasarnya, "ngapa nang kana, arep dadi kutis apa koe?" , intinya mereka menganggap rendah diriku terlebih lagi impianku. Bagaimana bisa membuktikan kalo diriku gak seperti yang mereka sangka jika mereka sendiri gak memberiku kebebasan untuk berekspresi, mencari jati diriku.
Bagiamana bisa aku mengenal siapa diriku jika aku gak diberi kesempatan untuk belajar?
Flash back ke masa silam ...
Ok, aku anak kedua dari dua bersaudara, kakakku laki-laki, dan kami berdua hanya tinggal dengan ayah, benar-benar bertiga. Saudara yang lain? Tak ada. Aku seorang wanita, di situlah kesalahannya, karena aku wanita, satu-satunya dalam keluarga. Apa yang salah jika aku wanita? Gerakku terbatas. Aku harus melapor kemanapun pergi. Keinginanku harus melalui persetujuan ayah dan kakak, dan apa pun keputusan mereka, aku tak boleh membangkang, meskipun itu bertentangan dengan hati nurani. Sekalipun mereka melakukan kesalahan, tetap dianggap benar. Mereka menanamkan istilah demikian dalam diriku, AKU SELALU SALAH DAN TAK ADA YANG BENAR DALAM DIRIKU.
Kesalahan kedua, kami adalah keluarga BROKEN HOME, lalu? Aku menjadi pelampiasan kemarahan kakak maupun ayah. Karena aku wanita, aku lemah. Aku tak pernah bisa melawan ketika mengalami kekerasan fisik. Aku selalu dipukuli jika melakukan kesalahan. Dan aku tetap tak bisa melakukan pemberontakan, sekecil apa pun. Itulah sebabnya aku hidup dalam ketakutan. Aku tak pernah bisa mengambil keputusan, karena aku takut. Menjadi pribadi yang minder. Mungkin hal yang paling menghambat langkahku dalam hidup adalah luka batin. Aku belum bisa melupakan rasa sakit itu.
Kecewa, marah, benci, dendam ...
Perasaan terabaikan, terbuang, dan tak dicintai, membuat hatiku membusuk cukup lama, aku butuh waktu menyembuhkan itu semua. Itu tidak mudah bagiku.
Well ...
Di sinilah aku sekarang. Dengan usiaku yang tak lagi muda. Meski belum dewasa, tapi aku bukan lagi anak kecil. Kuharap Tuhan memberiku banyak kesempatan untuk berekspresi. Aku percaya bahwa renca-Nya selalu indah. Dan saat inilah yang selalu kutunggu-tunggu. Melebarkan sayap dan terbang setinggi-tingginya. Mungkin inilah sebabnya masih ada nafas dalam nadiku. Setelah sekian banyak rasa sakit yang kulalui. Kuharap, aku masih bisa menikmati rasa sakit itu dengan cara yang lebih baik.
This is my dream pass ..
Untukmu, kalian, dan kita semua, inilah saatnya untuk melangkah. Jangan takut untuk memberontak demi kebahagiaanmu. Karena hanya kamu yang tahu mana yang terbaik untuk dirimu. Hilangkan rasa takutmu dan larilah! Meski ayah, ibu, kakak, dan saudara-saudaramu melupakanmu, percayalah Dia tak pernah meninggalkanmu.
GO AHEAD!!
Cilacap, lupa tanggal (dasar pelupa!!)
ini pertama kalinya aku kembali menulis setelah sekian lama vakum
pada dasarnya emang ga pinter nulis sih
mengalami beberapa perubahan psikis setelah beralih menjadi seorang wanita
yang jelas beranjak dewasa
cie cie cie . . .
ini pertama kalinya aku kembali menulis setelah sekian lama vakum
pada dasarnya emang ga pinter nulis sih
mengalami beberapa perubahan psikis setelah beralih menjadi seorang wanita
yang jelas beranjak dewasa
cie cie cie . . .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar